Mengenai Saya

Foto saya
aQ hnylh wnita bysa yg tkut sm Sang Kholik.. aQ hnylh wnita bysa yg ingn d manja aNd d ciNta.. tp aQ....... ^_^ mNiezzz,, ^_o m0etdzzz,, ^_* baikzzz,, ^_+ ramah tamah kpd seSamazzz,, ^_e ramezzz,, ^_u periangzzz,, ^_¤ aNd muaSih buanyak lgi. WuekKkekKkekKk

Kamis, 07 Oktober 2010

TUGAS TPKI 4

TUGAS TPKI 4
Nama : Karina Noviyanti
Semester : 3A
NIM : 2009.1024
E-mail : ale_deyrain@yahoo.co.id
Blog : www.aledeyrain.blogspot.com
Topik : TERORIS

Penyergapan Komplotan Perampok dan Teroris di Sumatera Utara
Akhir-akhir ini publik digegerkan dengan berita perampokan dan terorisme yang terjadi di Sumatera. Pembobolan ATM di Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat, sampai perampokan di Bank CIMB Niaga Medan yang menewaskan Bripka Anumerta Manuel Simanjuntak pada 16 Juli 2010 lalu. Kejadian perampokan tersebut terekam kamera CCTV, dan beberapa orang masyarakat yang kebetulan berada di dekat tempat kejadian pun sempat mengabadikan peristiwa tersebut dengan kamera telepon genggam mereka. Komplotan yang diperkirakan 14 orang ini, yang membawa senjata api diberitakan adalah bagian dari komplotan teroris Al-Qaeda Aceh. Polri terus memburu pelaku serta terus melakukan koordinasi dengan TNI guna keberhasilan penangkapan komplotan tersebut.
Kamis 30 September 2010 malam di Simpang Brohol, Kota Tebingtinggi. Terjadi kontak senjata antara satuan Brimob dengan komplotan yang diduga kuat adalah pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan, tetapi belum membuahkan hasil. Kontak senjata terjadi kembali Jum’at 1 Oktober 2010 dini hari di Desa Dolok Manampang dan Pekan Kamis, Kecamatan Dolok Masihul. Komplotan ini terkepung di kawasan perkebunan Dolok Masihul setelah jejak mereka teridentifikasi keberadaannya karena sebelumnya ada laporan dari masyarakat bahwa ada orang mencurigakan masuk ke sebuah kedai dengan membeli empat pasang sendal jepit dan belasan bungkus roti.
Sabtu 2 Oktober 2010, Polda Sumut mengerahkan Pasukan Brimob dan Densus 88 untuk menyergap kelompok yang diduga memiliki senjata api ini. Dalam baku tembak, satu orang tersangka mengalami luka tembak. Teman-temannya melarikan diri ke perkebunan sawit di Dusun Empat Pondok Lalang. Disinilah terjadi kontak senjata selama 2,5 jam. Dalam aksi ini, Polri berhasil menembak mati empat tersangka. Keempatnya adalah Taufik Hidayat, orang yang diduga menjadi pemimpin perampokan Bank CIMB Niaga Medan pada 16 Juli 2010 lalu, yang menewaskan Bipka Anumerta Manuel Simanjuntak. Senjata M-16 yang dirampas dari Manuel yang dibawa oleh Taufik Hidayat saat itu berhasil ditemukan di lokasi baku tembak. Sejumlah luka tembak tampak di bagian dada anggota komplotan ini. Tersangka lainnya adalah Zulkarnaen, Oji Syaputra alias Fauji dan Azwar Dedy. Di tempat kejadian ditemukan sejumlah senjata laras panjang, 700 butir peluru, tas senjata, pakaian, 4 magasin, ratusan amunisi, botol minuman, kartu tanda penduduk, dan sejumlah uang.
Abdul Gani Siregar ditangkap massa saat menyelinap dalam pesta perkawinan warga. Sedangkan Robin Simanjuntak terkena tembakan petugas, dan sedang menjalani perawatan. Mereka disergap pada Sabtu 2 Oktober 2010.
Minggu 3 Oktober 2010, terjadi kembali baku tembak yang menewaskan Dedi. Lalu seorang komplotan bersenjata bernama Rahman tewas akibat terkena ledakan granat yang digenggamnya. Ledakan terjadi saekitar pukul 10.30 WIB di pinggir Sungai Martebing, Dudun Dua, Desa Martebing, Kecamatan Dolok Masihul, saat sejumlah polisi dan TNI memergokinya sedang mengedap di sungai. Belum diketahui apakah peledakan granat ini merupakan aksi bunuh diri atau hendak dilemparkan kepada aparat. Namun aparat menduga anggota komplotan itu tidak tahu cara menggunakan granat. Sebelum granat meledak, aparat sudah memperingatkan supaya Rahman menyerahkan diri dan tidak memberi perlawanan. Namun dia malah mengeluarkan tembakan menggunakan pistol ke arah aparat, untung tidak mengarah. Dalam hitungan detik, granat yang dipegang Rahman meletus dan tubuhnya terjatuh ke sungai. Saat meledak, sejumlah aparat yang tadinya hanya berjarak sekitar 2 meter dari Rahman, langsung menjauh. Tidak ada korban dari pihak polisi maupun tentara dalam peristiwa ini. Berdasarkan pantauan, kepala Rahman di sebelah kiri hancur akibat ledakan granat dan dua pergelangan tangannya terputus. Meledaknya granat tersebut disebabkan pin pengamannya sudah dilepas tersangka untuk melukai petugas. Terbongkarnya keberadaan dua anggota komplotan bersenjata ini di sungai berawal dari tindakan teman mereka, bernama M. Khoir alias Buston yang menyerahkan diri ke Markas Kepolisian Sektor Dolok Masihul. Sebelum menyerahkan diri, Buston juga mengendap di Sungai Martebing, sekitar pukul 09.30 WIB.
Sebelum menyerahkan diri, Buston bertemu seorang warga bernama Hamdani Harahap, yang hendak buang air besar ke sungai. Di bawah pohon kelapa sawit, Buston yang dalam kondisi lemah dan kedinginan meminta tolong, tetapi tidak ditanggapi Hamdani yang justru memanggil warga lainnya yang berada tidak jauh dari sungai. Lalu Buston diantarkan ke Polsek Dolok Masihul, dan langsung diamankan ke ruang kerja Kapolsek. Polisi langsung mengorek informasi mengenai keberadaan rekannya. Dari pengakuannya itu, polisi langsung menyisir sungai dan menemukan dua komplotan yang bersembunyi disana.
Sampai ketika essai ini dibuat, sudah sembilan anggota komplotan senjata itu dibekuk, dengan rincian enam orang tewas dan tiga lainnya ditangkap hidup-hidup. Diduga komplotan ini berjumlah 14 orang yang mengendarai tujuh sepeda motor ketika melarikan diri ke perkebunan di Dolok Masihul. Berarti kurang lebih lima tersangka lagi yang masih buron.
Keberhasilan aparat kemarin merupakan hasil dari komunikasi dan koordinasi yang tetap dibangun dengan masyarakat. Dalam kasus kejahatan terutama terorisme, masyarakat menjadi salah satu unsur penting dan peran mereka harus dimaksimalkan, khususnya dalam memberikan informasi. Polri pun terus berkoordinasi dengan TNI dalam setiap penyergapan. Sehingga pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak berhasil ditangkap.
Polisi bersama TNI, masih terus mengembangkan pencarian komplotan ini. Penyisiran di daerah akan diakhiri jika sudah dinilai aman. Namun disimpulkan anggota komplotan ini masih ada sehingga kawasan ini harus tetap diawasi dan diisolasi. Mengenai penegasan kasus ini, Kepala Polda Sumatera Utara Irjen Pol Oegroseno menyatakan bahwa masalah awal akan difokuskan pada tindak kriminal yang mereka lakukan selama ini. Jika berkaitan dengan terorisme, akan ditindaklanjuti Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
Kelompok bersenjata di Dolok Masihul adalah kelompok besar. Dalam merencanakan aksinya, para pelaku terlebih dahulu rapat. Namun, tidak semua yang ikut rapat turut dalam melakukan aksi kriminal atau terorisme karena kendaraan kurang. Sebab mereka selalu berboncengan, kadang bonceng dua atau bonceng tiga. Akibat takut kena razia polisi saat berbonceng tiga, satu orang tidak ikut, tetapi ketika eksekusi, terutama perampokan yang berhasil, semua tetap dapat bagian. Para pelaku yang masih hidup sudah dapat diintrogasi, mereka banyak memberikan pengakuan, seperti terlibat perampokan tempat penukaran uang di Belawan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak.

lanjutan TUGAS TPKI 4

diduga menjadi pemimpin perampokan Bank CIMB Niaga Medan pada 16 Juli 2010 lalu, yang menewaskan Bipka Anumerta Manuel Simanjuntak. Senjata M-16 yang dirampas dari Manuel yang dibawa oleh Taufik Hidayat saat itu berhasil ditemukan di lokasi baku tembak. Sejumlah luka tembak tampak di bagian dada anggota komplotan ini. Tersangka lainnya adalah Zulkarnaen, Oji Syaputra alias Fauji dan Azwar Dedy. Di tempat kejadian ditemukan sejumlah senjata laras panjang, 700 butir peluru, tas senjata, pakaian, 4 magasin, ratusan amunisi, botol minuman, kartu tanda penduduk, dan sejumlah uang.
Abdul Gani Siregar ditangkap massa saat menyelinap dalam pesta perkawinan warga. Sedangkan Robin Simanjuntak terkena tembakan petugas, dan sedang menjalani perawatan. Mereka disergap pada Sabtu 2 Oktober 2010.
Minggu 3 Oktober 2010, terjadi kembali baku tembak yang menewaskan Dedi. Lalu seorang komplotan bersenjata bernama Rahman tewas akibat terkena ledakan granat yang digenggamnya. Ledakan terjadi saekitar pukul 10.30 WIB di pinggir Sungai Martebing, Dudun Dua, Desa Martebing, Kecamatan Dolok Masihul, saat sejumlah polisi dan TNI memergokinya sedang mengedap di sungai. Belum diketahui apakah peledakan granat ini merupakan aksi bunuh diri atau hendak dilemparkan kepada aparat. Namun aparat menduga anggota komplotan itu tidak tahu cara menggunakan granat. Sebelum granat meledak, aparat sudah memperingatkan supaya Rahman menyerahkan diri dan tidak memberi perlawanan. Namun dia malah mengeluarkan tembakan menggunakan pistol ke arah aparat, untung tidak mengarah. Dalam hitungan detik, granat yang dipegang Rahman meletus dan tubuhnya terjatuh ke sungai. Saat meledak, sejumlah aparat yang tadinya hanya berjarak sekitar 2 meter dari Rahman, langsung menjauh. Tidak ada korban dari pihak polisi maupun tentara dalam peristiwa ini. Berdasarkan pantauan, kepala Rahman di sebelah kiri hancur akibat ledakan granat dan dua pergelangan tangannya terputus. Meledaknya granat tersebut disebabkan pin pengamannya sudah dilepas tersangka untuk melukai petugas. Terbongkarnya keberadaan dua anggota komplotan bersenjata ini di sungai berawal dari tindakan teman mereka, bernama M. Khoir alias Buston yang menyerahkan diri ke Markas Kepolisian Sektor Dolok Masihul. Sebelum menyerahkan diri, Buston juga mengendap di Sungai Martebing, sekitar pukul 09.30 WIB.
Sebelum menyerahkan diri, Buston bertemu seorang warga bernama Hamdani Harahap, yang hendak buang air besar ke sungai. Di bawah pohon kelapa sawit, Buston yang dalam kondisi lemah dan kedinginan meminta tolong, tetapi tidak ditanggapi Hamdani yang justru memanggil warga lainnya yang berada tidak jauh dari sungai. Lalu Buston diantarkan ke Polsek Dolok Masihul, dan langsung diamankan ke ruang kerja Kapolsek. Polisi langsung mengorek informasi mengenai keberadaan rekannya. Dari pengakuannya itu, polisi langsung menyisir sungai dan menemukan dua komplotan yang bersembunyi disana.
Sampai ketika essai ini dibuat, sudah sembilan anggota komplotan senjata itu dibekuk, dengan rincian enam orang tewas dan tiga lainnya ditangkap hidup-hidup. Diduga komplotan ini berjumlah 14 orang yang mengendarai tujuh sepeda motor ketika melarikan diri ke perkebunan di Dolok Masihul. Berarti kurang lebih lima tersangka lagi yang masih buron.
Keberhasilan aparat kemarin merupakan hasil dari komunikasi dan koordinasi yang tetap dibangun dengan masyarakat. Dalam kasus kejahatan terutama terorisme, masyarakat menjadi salah satu unsur penting dan peran mereka harus dimaksimalkan, khususnya dalam memberikan informasi. Polri pun terus berkoordinasi dengan TNI dalam setiap penyergapan. Sehingga pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak berhasil ditangkap.
Polisi bersama TNI, masih terus mengembangkan pencarian komplotan ini. Penyisiran di daerah akan diakhiri jika sudah dinilai aman. Namun disimpulkan anggota komplotan ini masih ada sehingga kawasan ini harus tetap diawasi dan diisolasi. Mengenai penegasan kasus ini, Kepala Polda Sumatera Utara Irjen Pol Oegroseno menyatakan bahwa masalah awal akan difokuskan pada tindak kriminal yang mereka lakukan selama ini. Jika berkaitan dengan terorisme, akan ditindaklanjuti Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
Kelompok bersenjata di Dolok Masihul adalah kelompok besar. Dalam merencanakan aksinya, para pelaku terlebih dahulu rapat. Namun, tidak semua yang ikut rapat turut dalam melakukan aksi kriminal atau terorisme karena kendaraan kurang. Sebab mereka selalu berboncengan, kadang bonceng dua atau bonceng tiga. Akibat takut kena razia polisi saat berbonceng tiga, satu orang tidak ikut, tetapi ketika eksekusi, terutama perampokan yang berhasil, semua tetap dapat bagian. Para pelaku yang masih hidup sudah dapat diintrogasi, mereka banyak memberikan pengakuan, seperti terlibat perampokan tempat penukaran uang di Belawan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak.

Penyergapan Komplotan Perampok dan Teroris di Sumatera Utara

TUGAS TPKI 4
Nama : Karina Noviyanti
Semester : 3A
NIM : 2009.1024
E-mail : ale_deyrain@yahoo.co.id
Blog : www.aledeyrain.blogspot.com
Topik : TERORIS

Penyergapan Komplotan Perampok dan Teroris di Sumatera Utara
Akhir-akhir ini publik digegerkan dengan berita perampokan dan terorisme yang terjadi di Sumatera. Pembobolan ATM di Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat, sampai perampokan di Bank CIMB Niaga Medan yang menewaskan Bripka Anumerta Manuel Simanjuntak pada 16 Juli 2010 lalu. Kejadian perampokan tersebut terekam kamera CCTV, dan beberapa orang masyarakat yang kebetulan berada di dekat tempat kejadian pun sempat mengabadikan peristiwa tersebut dengan kamera telepon genggam mereka. Komplotan yang diperkirakan 14 orang ini, yang membawa senjata api diberitakan adalah bagian dari komplotan teroris Al-Qaeda Aceh. Polri terus memburu pelaku serta terus melakukan koordinasi dengan TNI guna keberhasilan penangkapan komplotan tersebut.
Kamis 30 September 2010 malam di Simpang Brohol, Kota Tebingtinggi. Terjadi kontak senjata antara satuan Brimob dengan komplotan yang diduga kuat adalah pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan, tetapi belum membuahkan hasil. Kontak senjata terjadi kembali Jum’at 1 Oktober 2010 dini hari di Desa Dolok Manampang dan Pekan Kamis, Kecamatan Dolok Masihul. Komplotan ini terkepung di kawasan perkebunan Dolok Masihul setelah jejak mereka teridentifikasi keberadaannya karena sebelumnya ada laporan dari masyarakat bahwa ada orang mencurigakan masuk ke sebuah kedai dengan membeli empat pasang sendal jepit dan belasan bungkus roti.
Sabtu 2 Oktober 2010, Polda Sumut mengerahkan Pasukan Brimob dan Densus 88 untuk menyergap kelompok yang diduga memiliki senjata api ini. Dalam baku tembak, satu orang tersangka mengalami luka tembak. Teman-temannya melarikan diri ke perkebunan sawit di Dusun Empat Pondok Lalang. Disinilah terjadi kontak senjata selama 2,5 jam. Dalam aksi ini, Polri berhasil menembak mati empat tersangka. Keempatnya adalah Taufik Hidayat, orang yang

Kamis, 22 April 2010

CHEZTER

When I stiil on Junior High School, I follow extracurricular of theater. I studied about art, like acting, singing, dancing, etc. Every thursday we are training. And when we will present the cabaret show on art stage every end of yeat in my school. We training seriously and very intensive, because that cabaret show is my first performance. The title of that cabaret is REINKARNASI. So full of tension!!!! Bersambung......
PERANAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN

MAKALAH
Dibuat dan Dipresentasikan Sebagai Salah Satu Tugas Kelompok Pada
Mata Kuliah Psikologi Umum

Dosen
Abdul Malik, S.Ag


Oleh :
Kelompok 9 (sembilan)
1. Karina Noviyanti
2. Dede Supiandi
3. Desi Irma Yuliani
4. Darajat P. Wiguna
5. Yona Suhandi


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SUKABUMI
2010 M / 1430 H
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejak anak-anak manusia pertama-tama lahir kedunia, telah ada dilakukan usaha-usaha pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya, kendatipun dengan cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia saling bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu untuk mempengaruhi orang lain teman bergaul mereka, untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan itu. Masalah pendidikan adalah masalahnya setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan diwaktu-waktu yang akan datang.
Merupakan suatu keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa dia dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan “keadaan” sianak didik. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena ilmu pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan. Maka dari itu psikologi berperan dalam dunia pendidikan.
ada hakikatnya psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang karena kalau diingat bahwa setiap orang pada suatu saat tentu akan melakukan perbuatan mendidik. Kenyataan bahwa pada dewasa ini hanya para pendidik profesional saja yang mempelajari psikologi mengenai pendidikan tidaklah dapat dipandang sebagai hal yang memang sudah selayaknya.


1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
Apa yang dimaksud psikologi?
2. Apa itu pendidikan?
3. Bagaimana penerapan psikologi dalam pendidikan?

C. Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah agar para mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan mengenai psikologi.
2. Menjelaskan tentang pendidikan.
3. Bagaimana penerapan pendidikan dalam psikologi.

BAB II
PAMBAHASAN


A. Psikologi
1. Pengertian Psikologi
Dilihat dari arti katanya, psikologi berasal dari kata ” psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan”logos” atau ilmu. Ditinjau dari arti katanya, psikologi dapat diartikan seolah-olah sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu yang mempelajari jiwa. Tetapi mengartikan psikologi sebagai ilmu yang mempelejari jiwa sebenarnya kurang tepet, karena dalam kenyataannya psikologi tidak mengkaji jiwa sebagai objeknya, karena jiwa merupakan sesuatu yang tidak dapat diamati secara konkrit, dan jiwa hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari kehidupan individu secara keseluruhan. Psikologi mempelajari perilaku sebagai manisfestasi jiwa.
Apa yang hendak diselidiki oleh psikologi ialah segala sesuatu yang dapat memberikan jawaban apa sebenarnya manusia itu, mengapa ia berbuat demikian, apa yang mendorongnya berbuat demikian, apa maksud dan tujuan ia berbuat demikian, dengan singkat dapat kita katakan bahwa psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dangan lingkungannya.
Perilaku yang dimksud adalah dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hayati(hidup) yang meliputi :
· Perilaku motorik adalah perilaku dalam bentuk gerakan seperti berjalan, berlari, duduk, dsb.
· Perilaku kognitif adalah perilaku dalam yang berupa dorongan dari dalam individu, misalnya kemauan, motif, kehendak, nafsu, dsb.
· Perilaku afektif adalah perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi, seperti senang, nikmat, gembira, sedih, cinta, dsb.
3Kesemua jenis perilaku itu merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, psikologi menggunakan metode-metode ilmiah (scientific methods) untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menafsirkan informasi yang berkenaan dengan perilaku individu. Beberapa metode yang dipergunakan antara lain eksperimen, observasi, klinis, psikometrika, dsb. Dengan demikian psikologi mencoba memberikan jawaban secara ilmiah terhadap pertanyaan tentang apa, mengapa, dan bagaimana perilaku individu. Hasil kajian yang berupa teori, prinsip atau generalisasi akan digunakan untuk memenuhi, mengontrol, dan meramalkan perilaku individu dalam berbagai aspek kehidupan.

2. Definisi Psikologi
Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia. Karena para alhi jiwa mempunyai penekanan yang berbeda maka definisi yang dikemukakan juga berbeda-beda.
Diantara pengertian yang dirimuskan oleh para ahli itu antara lain sebagai berikut :
a) Menurut Dr. Singgih Dirgagunarsa: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
b) Plato dan Aristoteles, berpendapat: Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
c) John Broadus Watson, memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan mengunakan metode observasi yang objektif terhadap ransangan dan jawaban (responsi)
d) Wilhelm wundt, tokoh psikologi eksperimental berpendapat bahwa psikologi merupakanilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalm diri manusia, seperti dalam perasaan panca indra, pikiran, feeling, dan kehendak.
e) Woodworth dan Marquis berpendapat: psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.
f) Knight dan Knight: “psychology may be defined as the systematic study of experience and behavior human and animal, normal and abnormal, individual and social.”
g) Hilgert: “psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other animal.”
h) Ruch: “psychology is sometime defined as the study of man, but this definition is too broad. The truth is that psychology is partly biological science and partly a social science, overlapping these two major areas and relating them each other.”

3. Obyek Psikologi
Di muka telah dikatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang berusaha menyelidiki manusia, jadi yang menjadi obyek daripada psikologi adalah manusia. Karena sifat-sifat manusia yang sangat kompleks dan unik, maka obyek psikologi biasanya dibedakan menjadi dua macam:
a. Obyek material, yakni obyek yang dipadang secara keseluruhannya. Adapun obyek material dari psikologi ialah manusia. Manusia, di samping menjadi obyek psikologi juga menjadi obyek bagi ilmu-ilmu yang lain.
b. Obyek formal, jika dipandang menurut aspek yang dipentingkan dalam penyelidikan psikologi itu. Dalam hal ini maka obyek formal dari psikologi adalah berbeda-beda menurut perubahan zaman dan pangdangan para ahli masing-masing. Pada zaman Yunani samapi dengan abad pertengahan misalnya, yang menjadi obyek formalnya adalah hakikat jiwa. Kemudian pada masa Descartes obyek psikologi itu ialah gejala-gejala kesadaran, yakni apa-apa yang langsung kita hayati dalam kesadaran kita: tanggapan, perasaan, emosi-emosi, hasrat, kemauan, dsb. Pada aliran Behaviorisme yang timbul di Amerika pada permulaan abad ke-20 ini yang menjadi obyeknya ialah tingkah laku manusia yang tampak (lahiriah). Sedangkan pada aliran psikologi yang dipelopori oleh Freud, obyeknya adalah gejala-gejala ketidaksadaran manusia.

4. Pendekatan Psikologi
Dalam pengkajian terhadap perilaku, terdapat berbagai jenis pendekatan dalam memberikan penjelasan mengenai apa, mengapa, dan bagaimana prilaku individu. Pendekatan-pendekatan utama ialah sebagai berikut:
a) Pendekatan behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu. Menurut pendekatan ini, perilaku itu adalah segala sesuatu yang dapat diamati oleh alat indera kita sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Dalam interaksi dengan lingkungan, individu menerima stimulus (rangsangan) dengan response (tindak balas). Pendekatan behaviorisme ini sering pula disebut sebagai teori S-R (teori stimulus-response). Beberapa tokoh psikologi dalam pendekatan ini antara lain: Watson, Skinner, Pavlov, dan Thorndike.
b) Pendekatan psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal yang berada di bawah kesadaran individu. Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku individu dikontrol oleh bagian yang tidak sadar. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud, yang mrngatakan bahwa kepribadian terdiri atas tiga unsur, yaitu Id, Ego, dan Super Ego. Semua perilaku digerakkan oleh kekuatan di bawah sadar yang disebut libido.
c) Pendekatan kognitif, menjelaskan bahwa perilaku itu sebagai proses internal (di dalam). Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku merupakan suatu proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan informasi, untuk kemudian menghasilkan keluaran. Individu bukanlah menerima rangsangan yang pasif, akan tetapi di dalam kesadarannya (otak) terjadi suatu proses yang aktif mengolah dan mengubah informasi yang diterima menjadi bentuk baru yang lebih sesuai. Keluaran yang berupa perilaku akan banyak tergantung pada pembendaharaan (simpanan) dalam kesadaran atau otak individu. Tokoh-tokoh dalam pendekatan ini antara lain: Piaget, Ausubel, dan Brunner.
d) Pendekatan humanistik, lebih menekankan pada martabat kamanusiaan pada individi yang berbeda dengan hewan dan mahluk lainnya. Menurut pendekatan ini, manusia sudah sejak awalnya mempunyai dorongan untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia di lingkungannya. Setiap individu bertanggung jawab terhadap tindakannya nasing-masing. Perilaku individu terjadi karena adanya kebutuhan yang mendorong untuk mewujudkan dirinya (self-actualization). Tokoh-tokoh dalam kelompok pendekatan ini adalah Maslow dan Carl Rogers.
e) Pendekatan neurobiologi, yang mangaitkan perilaku individu dengan kejedian-kejadian di dalam otak dan sistem syaraf. Menurut pendekatan ini, perilaku seseorang amat tergantung pada posisi otak dan sistem syarafnya. Apabila otak dan syaraf terganggu, maka perilaku akan terganggu pula.

5. Jenis-Jenis Psikologi
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, psikologi telah banyak dipergunakan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, perdagangan, industri, hukum, politik, militer, sosial, kesehatan, manajemen dan administrasi, pengajaran, kepemimpinan, pelatihan, agama, dsb. Sehubungan dengan itu, kemudian timbul berbagai cabang-cabang psikologi yang mengkaji perilaku dalam situasi yang khusus, baik untuk tujuan teoritis maupun praktis.
Psikologi umum ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatanatau aktivitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa, yang normal dan yang beradab (berkultur). Psikologi umum berusaha mencari dalil-dalil yang bersifat umum daripada kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis. Psikologi umum memandang manusia seakan-akan terlepas dari manusia yang lain.
Psikologi khusus ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas psikis manusia. Hal-hal yang khusus yang menyimpang dari hal-hal yang umum dibicarakan dalam psikologi khusus.
Beberapa jenis psikologi khusus antara lain:
· Psikologi perkembangan, yang mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan sejak kehidupan dimulai (konsepsi) sampai akhir kehidupan (mati).
· Psikologi sosial, yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi sosial.
· Psikologi abnormal, yang mengkaji perilaku individu yang tergolongan abnormal.
· Psikologi komparatif, yang mengkaji perbandingan perilaku manusia dengan perilaku binatang.
· Psikologi diferensial, yang mengkaji perbedaan perilaku antar individu.
· Psikologi keperibadian, yang mengkaji perilaku individu secara khusus dari aspek kepribadiannya.
· Psikologi pendidikan, yang mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan.
· Psikologi industri, yang msngkaji perilaku individu dalam akitan dengan dunia industri.
· Psikologi klinis, yang mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan.
· Psikologi kriminal, yang mengkaji perilaku individu dalam situasi kriminal.
· Psikologi militer, yang mengkaji perilaku individu dalam situasi kemiliteran.

6. Metode-metode dalam Psikologi
Objek psikologi adalah penghayatan dan perbuatan manusia, perbuatan manusia dalam alam yang kompleks dan selalu berubah. Jiwa bukanlah sesuatu benda yang mati, tetapi sesuatu yang hidup dinamis, selalu berubah untuk maju menuju kesempurnaannya. Oleh karena itu penggunaan suatu metode, bagaimanapun baiknya pasti tidak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak. Sebab tiap metode punya kelemahan di samping kebaikan.
Dengan demikian, dalam menyeladiki, hendaknya juga digunakan banyak metode. Ini dimaksudkan agar kelemahan metode yang satu dapat ditutupi oleh kesempurnaan pada metode yang lain.
Berdasarkan renungan dan pengalaman maka akan didapatkan metode sebagai berikut:
a) Metode yang bersifat filosofis.
1) Metode Intuitif
Metode ini dilakukan dengan cara sengaja untuk mengadakan suatu penyeladikan atau dengan tidak sengaja dalam pergaulan sehari-hari. Dalam keadaan yang terakhir itu kita mengadakan penilaian. Langkah sepertiini justru kesan pertamalah yang paling besar peranannya dalam pengambilan kesimpulan. Metode ini kurang memenuhi syarat, karena harus dikombinasikan dengan metode-metode lain guna memperoleh kesimpulan yang valid.
2) Metode Kontemplatif
Metode ini dilakukan dengan jalan merenungkan objek yang akan diketahui dengan mempergunakan kemampuan berpikir kita. Alat utama yang digunakan adalah pikiran yang benar-benar sudah dalam keadaan objektif. Metode ini tidak sepopuler metode yang bersifat empiris. Karena hasilnya dianggap terlalu spekulatif. Namun demikian metode ini masih digunakan dalam dunia psikologi.
3) Metode Fisolofis Religius
Metode ini digunakan dengan menggunakan materi agama, sebagai alat utama untuk meneliti pribadi manusia. Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu merupakan kebenaran absolut dan pasti. Dengan kata lain, kita menyelidiki jiwa manusia beserta segala seginya dengan menggunakan materi yang tertera dalam kitab suci sebagai norma standar penilaian.

b) Metode yang bersifat empiris.
1) Metode Observasi
Metode observasi ialah metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti, dan sistematis. Dalam hal ini observasi dapat melalui tiga cara, yaitu:
(a) introspeksi (retrospeksi).
Istilah “introspeksi” berasal dari bahasa Latin: (intro: dalam; dan spektare: melihat). Jadi pada introspeksi individu mengalami sesuatu, dan ia sendiri dapat pula mengamati, mempelajari apa yang dihayati itu.
Kelemahan dalam metode introspeksi:
(1) Kesulitan pada manusia melakukan dua tugas menghayati dan mengingat kembali.
(2) Pada introspeksi faktor ingatan kadang-kadang menghambat proses, yaitu adanya faktor krlupaan dan pencampuradukan antara fantasi dan ingatan.
(3) Kekurangan perbendaharaan bahasa di dalam melikiskan kembali peristiwa yng sudah dan sedang terjadi.
(4) Kadang-kadang diragukan objrktivitasnya oleh karena adanya ketidakjujuran.


(b) Introspeksi eksperimental.
Istilah introspeksi eksperimental adalah suatu metode introspeksi, yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen secara sengaja dan dengan suasana yang dibuat.
(c) Ekstrospeksi.
Ekstrospeksi adalah suatu metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri denga membandingkan gejala orang lain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala-gejala jiwa yang ditunjikan dari mimik dan pantomimik orang lain.

2) Metode Pengumpulan Bahan
Dengan teknik ini, dimaksudkan suatu penyelidikan yang dilakukan mengolah data-data yang didapat dari kumpulan daftar pertanyaan dan jawaban (angket), bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan-bahan lain yang berhubungan dengan apa yang sedang diselidiki. Data-data yang diperoleh itu kemudian diklasifikasikan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Dalam rangka mendapatkan data dengan teknik pengumpulan bahan ini peneliti dapat menempuh dengan melalui tiga cara:
(a) Metode Angket-interviu
Metode angket ialah suatu penyelidikan yang dilaksanakan dengan menggunakan daftar pertanyaan mengenai gejala-gejala kejiwaan yang harus dijawab oleh orang banyak, sehingga berdasarkan jawaban yang diperolehnya itu, dapat diketahui keadaan jiwa seseorang.
(b) Metode Biografi
Metode ini merupakan lukisan atau tulisan perihal kehidupan seseorang, baik sewaktu ia masih hidup maupun sesudah meninggal.
(c) Metode Pengumpulan Bahan
Metode ini merupakan suatu metode yang dilaksanakan dengan jalan mengumpulkan bahan, terutama pengumpulan gambar yang dibuat oleh anak-anak.
3) Metode Eksperimen (Percobaan)
Istilah eksperimen dalam psikologi berarti pengamatan secara teliti terhadap gejala-gejala jiwa yang kita timbulkan dengan sengaja. Hal ini dimaksudkan untuk “menguji” hipotesis pembuat eksperimen tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok dalam suatu situasi tertentu. Jadi, tujuan eksperimen ialah untuk mengetahui sifat-sifat umum dari gejala-gejala kejiwaan.
4) Metode Klinis
Metode klinis ialah nasihat dan bantuan kedokteran yang diberikan kepada para pasien, oleh ahli kesehatan. Metode klinis yang diterapkan dalam psikologi ialah kombinasi dari bantuan klinis medis dengan metode pendidikan, untuk melakukan observasi terhadap para pasien.
5) Metode Interviu
Interviu merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan dalam bentuk lisan.
6) Metode Testing
Metode ini merupakan metode penyelidikan yang mernggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah distandarisasikan.
7) Tujuan Mempelajari Psikologi
· Untuk memperoleh pemahaman tentang gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih sempurna tentang tingkah laku sesama manusia pada umumnya dan anak-anak pada khususnya.
· Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia atau anak.
· Untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.

B. Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Menurut bahasa Yunani, pendidikan berasal dari kata "Pedagogi" yaitu kata "paid" artinya "anak" sedangkan "agogos" yang artinya membimbing "sehingga " pedagogi" dapat di artikan sebagai "ilmu dan seni mengajar anak".
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Wikipedia, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari pernyataan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2. Tujuan Pendidikan
Menurut UU No. 2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani.
Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
Menurut TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945, Bab II (Pasal 2, 3, dan 4).
3. Batasan tentang Pendidikan
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.

a. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara
Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.
e. Definisi Pendidikan Menurut GBHN
GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
4. Unsur-Unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
a. Subjek yang dibimbing (peserta didik).
b. Orang yang membimbing (pendidik).
c. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).
d. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
e. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
f. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).
g. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

C. Peranan Psikologi dalam Pendidikan
Pedidikan dan pengajaran tampaknya dapat dianggap sebagai bidang profesi yang paling banyak memanfaatkan penerapan psikologi. Khususnya dalam pendidikan dan pengajaran persekolahan.
Program-program dalam persekolahan yang memanfaatkan hasil penelitian psikologi antara lain:
1) Pengajaran
Bagi para pendidik, pengetahuan tentang psikologi yang dimiliki akan membantu dalam menghadapi anak didiknya. Misalnya, bagaimana memanfaatkan hasil penilaian pendidikan sehingga dapat mendorong anak belajar, bagaimana memanfaatkan alat peraga dalam mengajar, dan lain sebagainya. Betapa banyaknya sumbangan psikologi dalam dunia pengajaran ini sehingga perly sekali., bagi calon guru dibekali psikologi sebelum ia melakukan tugasnya.



2) Kurikulum
Dasar-dasar psikologi digunakan untik menyusun program pengajaran, yang sesuai dengan masa perkembangan anak, kebutuhan-kebutuhan anak, minat anak, dan lain sebagainya.
3) Disiplin dan peraturan
Pembuatan peraturan-peraturan sehingga dengan sukarela anak mau menurutinya, penciptaan suasana sekolah yang menyenangkan, dan lain sebagainya.
4) Human relationships
Hubungan antar-personal di sekolah sehingga dinamika kerja lebih efektif dan efisien menyangkut hubungan sesama guru, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan murid, antara guru dengan tata usaha, dan seterusnya.

Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari psikologi. Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia, maka akan banyak ilmu pengetahuan yang muncul berkaitan dengan eksistensi manusia.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mempelajari dirinya sendiri, sehingga muncul suatu ilmu yang mempelajari diri sendiri manusia, atau dengan kata lain manusia ingin mengetahui keadaan manusia sendiri, manusia menjadi objek studi dari manusia. Hal ini yang memunculkan ilmu pengetahuan baru yang disebut psikologi, yang lebih menekankan kepada aspek pemahaman dan pengkajian sesuatu dari sudut karekateristik dan perilaku manusia, khususnya manusia sebagai individu.
Individu yang dimaksud adalah individu manusia, namun bukan manusia pada umumnya, melainkan manusia yang memiliki keunikan dan karakteristik tertentu yang bersifat spesifik. Hal ini yang membedakan psikologi dengan cabang-cabang ilmu lain yang sama-sama mengkaji tentang manusia.
Adapun pendidikan, merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang lebih menekankan kepada mendidik, membimbing dan mengarahkan manusia menuju arah yang lebih baik, secara jasmani maupun rohani. Sehingga antara pendidikan dan psikologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena keduanya saling mendukung dan saling melengkapi. Untuk mewujudkan manusia yang bertingkah laku atau berperilaku lebih baik, maka manusia itu harus dididik dalam suatu proses pendidikan. Pendidikan sendiri tidak akan berjalan secara optimal, efektif dan efisien apabila mengesampingkan faktor psikologis manusia.
Dalam proses pendidikan manusia memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda satu sama lain. Hal ini membutuhkan pengelolaan yang berbeda. Bagitu pun apabila ditinjau dari sudut perkembangan, pertumbuhan, jenis kelamin manusia tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dilakukan tidak akan sama. Oleh karena itu, penting bagi pendidik maupun calon pendidik untuk menguasai ilmu pengetahuan psikologi, agar dalam proses pendidikannya mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada peserta didiknya.
Adapun dalam kajian ini berupaya untuk mengeksplorasi peranan psikologi dalam pendidikan. Apa peranan yang diberikan psikologi dalam pendidikan? Apakah tujuan pendidikan akan tercapai apabila mengesampingkan aspek psikologis ini? Prolematika tersebut muncul karena dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan cabang ilmu psikologi ini.
Sebelum psikologi memasuki lembaga yang menghasilkan tenaga berpendidikan telah berkembang beberapa anggapan bahwa pengetahuan dan penguasaan akan bahan pelajaran secara otomatis akan memberikan kemampuan atau kompetensi untuk mengajarkanya. Anggapan lainnya, jika kemampuan dan keterampilan mengajar terpisah dari pengetahuan tentang bahan pelajaran yang ada, maka kemampuan dan ketrampilan tersebut merupakan pembawaannya. Dengan kata lain, anggapan yang terakhir, melahirkan pernyataan “guru-guru/ pendidik dilahirkan sebagai guru/pendidik, bukannya dipersiapkan” (teachers are born, not made).
Sudah tentu, kedua anggapan tersebut tidak menunjukkan keahliannya, baik seluruhnya maupun sebagian. Terhadap anggapan pertama, keahlian atau validitasnya dapat digugurkan berdasarkan atas pengalaman sehari-hari. Suatu gejala yang sudah lazim terdapat pada pengalaman tiap orang menunjukkan bahwa sarjana baik laki-laki maupun wanita, betapapun kompetennya, namun belumlah tentu dapat menjamin dia mampu menyampaikan pengetahuannya kepada para peserta didik dengan baik. Sebaliknya, cukup banyak sarjana yang kurang kompeten, ternyata lebih berhasil sebagai pendidik/guru.
Sedangkan terhadap anggapan yang kedua, tidak sepenuhnya mengandung kesahihan. Memang, tak seorang pun menyangkal bahwa tiap-tiap orang ada ketidaksamaan dalam hal bakat pembawaan mengajar. Paling tidak ada dua hal – yaitu dalam hal kemampuan untuk menemukannya secara intuitif atau belajar dari orang lain tentang prinsip-prinsip belajar-mengajar yang sahih dan dalam hal kemampuannya untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan berhasil. Perkiraan yang tepat adalah sebagian mereka yang berintelegensi normal akan dapat memanfaatkan dan mengambil keuntungan sebagian pengajaran yang sistematis yang dibenarkan secara logis dan empiris tentang sifat dan kemudahan dalam proses belajar. Bagi mereka yang kurang berbakat, setidak-tidaknya akan dapat menjadi guru yang baik, sedangkan bagi mereka yang berbakat lebih baik, justru akan dapat mengembangkan dengan lebih baik lagi tiap kapasitas yang dimilikinya.
Bagaimanapun, yang ideal ialah dilakukannya proses seleksi yang sedemikian rupa dalam penerimaan calon pendidik/guru agar psikologi pendidikan benar-benar dapat memainkan peran dan fungsinya dengan jelas.
Untuk memperkuat uraian tersebut, baiklah dikemukakan contoh sebagai berikut, jika orang hendak mengajarkan bidang studi matematika atau bidang studi pendidikan agama, misalnya. Paling tidak ia perlu memahami dan menguasai empat hal, yaitu: pertama, tujuan yang ingin dicapai; kedua, materi yang akan disampaikan; ketiga, sifat dan hakikat anak didik; dan keempat, metode mengajar dan alat-alat peraganya.
Terhadap masalah yang kedua, yaitu yang menyangkut masalah atau materi yang akan disajikan, biasanya telah dipelajari calon pendidik/guru sebelum ia disiapkan secara teknis untuk menjadi guru/pendidik. Terhadap masalah pertama dan keempat, yaitu tujuan yang ingin dicapai dan metode mengajar dan alat-alat peraga yang diperlukan, kesemuannya dapat dimasukkan ke dalam seni dan ketrampilan mengajar serta prosedur pengembangan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan terhadap masalah yang ketiga, yaitu sifat hakikat peserta didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik dalam proses belajarnya. Dan terhadap masalah yang terakhir inilah nampak dengan jelas betapa pentingnya psikologi pendidikan bagi guru/pendidik, maupun calon pendidik.
Jadi, berdasarkan atas uraian di atas, dapatlah ditegaskan bahwa psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan di lembaga-lembaga pendidikan guru/pendidik. Dan penegasan ini pun mendasarkan atas dua dimensi pemikiran. Pertama, sifat dan jenis belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang kemudian dapat diidentifikasikan secara meyakinkan. Kedua, pengetahuan yang serupa itu dapat disistematisasikan dan disampaikan secara efektif kepada para calon pendidik/guru. Dari kedua dimensi pemikiran inilah para calon pendidik/guru dapat mengambil manfaat dan keuntungannya.
Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.
BAB III
KESIMPULAN

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dangan lingkungannya.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, sekaligus juga proses interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkungan tertentu. Senantiasa tidak bisa dipisahkan dari psikologi. Karena memang obyek dari pendidikan itu sendiri adalah individu manusia yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Di sinilah peran penting psikologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, wajib bagi suatu lembaga yang mencetak kader-kader pendidik/guru untuk memberikan ilmu pengetahuan psikologi kepada mereka calon pendidi tersebut. Adapun untuk para pendidik/guru sudah selayaknya menguasai ilmu psikologi ini, agar dalam proses belajar mengajar bisa meminimalisir kegagalan dalam penyampaian materi pelajarannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.




21
DAFTAR PUSTAKA
Soemanto, Wasty, 1990. Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi, 1989. Psikologi Pendidikan, Jakarta: CV. Rajawali.
Purwanto, Ngalim, 1990. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Surya, Mohamad, 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Ahmadi, Abu,2009. Psikologi Umum, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Nasrudin, Endin, 2008. Psikologi Pembelajaran, Sukabumi: STAI Sukabumi Publishing.
www.google.com








22KATA PENGANTAR


Bismillahirahmanirrahim,
Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Rasulullah terakhir yang diutus dengan membawa syari’ah yang mudah, penuh rahmat, dan membawa keselamatan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Makalah berjudul Penerapan Psikologi dalam Pendidikan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah psikologi umum. Kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada agar makalah ini dapat tersusun sesuai harapan.
Sesuai dengan fitrahnya, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, maka dalam makalah yang kami susun ini pun belum mencapai tahap kesempurnaan.
Kami sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, khususnya kepada Bpk. Abdul Malik, S.Ag yang telah memberikan tugas makalah ini. Dan umumnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan motivasi dalam bentuk moril maupun materiil.
Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat, dan semoga amal ibadah serta kerja keras kita, senantiasa mendapat ridho dan ampunan dari-Nya. Amin.


Sukabumi, Maret 2010

Penulis



I
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah...................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C. Tujuan................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Psikologi............................................................................................. 3
1. Pengertian Psikologi....................................................................... 3
2. Definisi Psikologi............................................................................ 4
3. Obyek Psikologi........................................................................... 5
4. Pendekatan Psikologi.................................................................... 6
5. Jenis-Jenis Psikologi..................................................................... 7
6. Metode-metode dalam Psikologi................................................... 9
B. Pendidikan........................................................................................... 12
1. Pengertian Pendidikan.................................................................... 12
2. Tujuan Pendidikan......................................................................... 13
3. Batasan tentang Pendidikan............................................................ 14
4. Unsur-Unsur Pendidikan................................................................ 16
C. Peranan Psikologi dalam Pendidikan.................................................... 17

BAB III KESIMPULAN.................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 22
ii

Selasa, 19 Januari 2010

surat cinta

Surat Cinta Dari Kekasih

c

Pernahkan sahabat menerima surat Cinta dari sang kekasih? atau Surat dari orang yang kita “keceng” ,yang kita rindu karena berpisah begitu lama. Bagaimana rasanya ketika kata-demi-kata kita baca. Ketika surat itu berisi kata-kata rindu, tentu hati bisa berdebar, pikiran melayang, hati berbunga-bunga. Bahkan tidurpun tersenyum,hehe..

Namun ketika surat-surat itu berisi teguran, rasa kecewa, apalagi marah. Hati benar-benar gelisah, khawatir. Akankah cinta menjadi malapetaka. Akankah sang kekasih akan putuskan cinta. Tidurpun gelisah tidak nyaman.

Begitulah yang Rosulullah rasakan. Al Quran telah membuat beliau gemetar, gelisah, basah dengan keringat di saat ayat-ayat-Nya turun. Namun disaat lain beliau tersenyum, bangga dikala mendengar kabar gembira buat diri dan ummatnya. Al Quran begitu memenuhi hati dan pikiran beliau. Sehingga secara luar biasa, merubah cara berpikir tentang Tuhan (tauhid), cara hidup, cara berperilaku, akhlak mulia. Hanya cukup 23 tahun berinteraksi dengan Al Quran, tidak hanya diri yang berubah, bahkan jazirah Arab yang tidak diperhitungkan saat itu dan dunia sampai sekarangpun bisa merasakan dampak perubahannya.

Sudahkah kita merasakan apa yang Rosulullah Rasakan? Sudahkan kita melihat Al Quran sebagai surat cinta, bukan hanya kepada Rosulullah, tapi kepada diri kita? Atau kita ketika membaca Al Quran, masih seperti membaca surat cinta kepada Rosulullah… bukan surat cinta kepada kita langsung. Seperti layaknya kita membaca surat cinta buat teman kita. Mari kita coba selami.

silver-gold-55

Andaikan surat cinta ini dari Aminah kepada Amir kawan kita. Akankah kita rasakan debaran, gelisah, sebagaimana yang dirasakan Amir atau Aminah?

“Abang Amir, saya sedih ketika melepas kepergian abang di dermaga tadi”

Adakah kita merasakan suasana batin mereka, atau keterharuan yang dirasakan Amir ketika membaca surat dari Aminah tadi. Mungkin iya, mungkin tidak. Malah bisa jadi kita akan menertawakan surat cinta mereka yang “sok romantis” “sok sedih” atau bahkan lebih buruk lagi “peduli amat, ini jelas bukan buat saya, I don’t care”.

Nah sekarang, Bayangkan jika “Abang Amir” di atas diganti dengan nama kita (mangga’ diganti dengan nama masing-masing yaa dan diresapi) :-)

“Mas Hadi, saya sedih ketika melepas kepergian Mas di dermaga tadi”

Wah jadi terharu,hehe….

Entah sudah berapa tahun kitab yang satu ini selalu nampak di kamar, di ruang belajar, di lemari buku, di musholla, dan tempat-tempat dimana Saya biasa meletakkannya. Ntah berapa kali kitab yang disucikan ini dibaca dan hatam. Namun saya tidak yakin, tuntunannya sudah cukup merubah cara hidup saya, sebagaimana merubah cara hidup Rosulullah dan sahabat-sahabatnya. Ya Al Quran turunnya telah membuat Rosulullah menggigil dan berubah.

Cukup 5 ayat surah Al Alaq, beliau merasa gelisah, gemetar, menggigil kedinginan sehingga membuat istrinya memberikan selimut, menenangkan bahkan menanyakan perihal “kejadian” ini kepada Waraqah, anak paman Khadijah, yang seorang pendeta Nasrani. Bisa dibayangkan tekanan batin yang beliau rasakan sehingga terpikir untuk menerjunkan diri dari bukit (bunuh diri). Apalagi pada saat wahyu terputus. Bingung, gelisah, dan bertanya-tanya “is that real”, “am I a Rosulullah?”, “bagaimana saya menghadapi kaumku? Akankah mereka menertawakanku tentang kejadian ini?”. Begitu pula saat wahyu kedua turun (Al Mudatsir) yang mengingatkan beliau untuk bangkit dari selimut dan berilah peringatan.

“Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.” (Al Muddatstsir: 1-7).

Sungguh ini merupakan perkataan yang besar dan menakutkan, yang membuat Beliau melompat dari tempat tidurnya yang nyaman di rumah penuh kedamaian, siap terjun ke kancah, di antara arus dan gelombang, antara yang keras dan yang menarik menurut perasaan manusia. terjun ke kancah kehidupan (dikutip dari Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfurry, Sirah Nabawiyah).

Namun sayangnya, dahsyat-nya perasaan yang dialami Rosulullah, belum saya rasakan. Mungkin saya masih menganggap Al Quran ini buat Rosulullah. Bukan buat saya. Padahal sungguh, di pikiranku, saya yakin Al Quran ini buat seluruh manusia, bukan hanya Rosulullah. Kabar gembiranya adalah kabar gembira bagi manusia yang beriman. Peringatan dan ancamannya buat ummat manusia. Tuntunannya buat kita. Lalu mengapa tidak ada pengaruh ya? Mungkin cara pandang dan interaksi saya selama ini salah terhadap Al Quran.

Ah… surat ini ternyata bukan hanya untuk Rosulullah. Surat Al Muddatstsir itu pun, bisa menjadi surat cinta dari Allah untukku, untukmu juga.

7 ayat yang agung, sarat dengan tausyiyah meminta saya untuk BANGKIT, BERDAKWAH, TAKBIR, BERSIH2 Jasmani, HINDARI DOSA (bersih2 ruhani), IKHLAS (Menghindari PAMRIH/RIBA), dan SABAR. Entah butuh waktu berapa lama saya bisa merasakan besarnya cinta Allah sampai menurunkan 7 keywords di atas. Entah butuh berapa lama bisa memahami dan mengamalkannya. Pasti Allah marah kalau ada kata yang terlewat, apalagi abai atas surat cintanya. Pasti Allah tidak suka kalau saya hanya pasif, tidak pernah menyampaikan ayat-ayat-Nya. Pasti Allah tahu betapa sedikitnya dzikir diucapkan. Betapa parahnya pamrih yang kadang melintas dihati saya. Ini pertanda sikap ikhlas hanya karena Allah belumlah terpatri di hati. Lalu buat siapa selama ini saya berbuat? Saya hanya ingin minta maaf, semoga Allah tidak murka dan memutuskan cinta-Nya. Nauzubillahi min dzalik.

Ya Rabb, izinkanlah Aku membaca surat-surat cintamu yang belum terbalaskan.

Minggu, 29 November 2009

MAKALAH: SELUK-BELUK KALIMAT

SELUK-BELUK KALIMAT

MAKALAH

Diajukan dan Diprestasikan untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia



Disusun Oleh:

  1. Ai Mulyasaroh NIM 2009.1001

  2. Andri Eriyantara NIM

  3. Baden Rifa’i NIM

  4. Darajat P. Wiguna NIM 2009.1007

  5. Dede Supiandi NIM 2009.1008

  6. Dina Yuliana NIM 2009.1012

  7. Karina Noviyanti NIM 2009.1024





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SUKABUMI

Jalan Veteran I No. 36 Telp. (0266) 225464 Kota Sukabumi 43111



KATA PENGANTAR


Bismillahirahmanirrahim,

Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Rasulullah terakhir yang diutus dengan membawa syari’ah yang mudah, penuh rahmat, dan membawa keselamatan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Makalah berjudul Seluk-Beluk Kalimat ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah bahasa indonesia. Kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada agar makalah ini dapat tersusun sesuai harapan.

Sesuai dengan fitrahnya, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, maka dalam makalah yang kami susun ini pun belum mencapai tahap kesempurnaan.

Kami sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, khususnya kepada Bpk. Mulyawan S. Nugraha, M.Ag., M.Pd. yang telah memberikan tugas makalah ini. Dan umumnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan motivasi dalam bentuk moril maupun materiil.

Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat, dan semoga amal ibadah serta kerja keras kita, senantiasa mendapat ridho dan ampunan dari-Nya. Amin.



Sukabumi, November 2009

Penulis



DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR  ....................................................................... i

DAFTAR ISI  ....................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

  A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

  B. Rumusan Masalah .......................................................................... 1

  C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan .................................................. 2

  D. Sistematika Penulisan ................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

  A. Pengertian Kalimat ........................................................................ 3  

  B. Pola-Pola dan Bagian-Bagian Kalimat ......................................... 5  

  C. Kalimat Sederhana dan Kalimat Luas ......................................... 6

BAB III PENUTUP

A. Simpulan .......................................................................................... 18 

  B. Saran .............................................................................................. 19  

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 20


BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

            Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi manusia. Bahasa mengalami perkembangan sesuai tingkatan usianya, salah satu unsur bahasa adalah kalimat. Kalimat digunakan seseorang untuk mengungkapkan ide, gagasan dan perasaan.

Ada berbagai cara yang dilakukan untuk mendeskripsikan berbagai kalimat yang ada dalam sebuah bahasa. Karena tidak terbatasnya jumlah kalimat, cara-cara yang digunakan untuk menentukan struktur sintaktiknya dilakukan melalui ragam dasar struktur kalimat yang menjadi pola kalimat-kalimat lainnya. Menurut jumlah klausanya, kalimat tunggal dinyatakan sebagai pola dasar kalimat majemuk. Ditinjau dari pola-pola yang dimilikinya, kalimat dapat dibagi menjadi kalimat inti, kalimat luas, dan kalimat transformasional.

Sehubungan dengan hal diatas, dalam makalah ini akan dibahas seluk-beluk kalimat yang berkenaan dengan pengertian kalimat, pola-pola dan bagian-bagian kalimat, kalimat sederhana dan kalimat luas. Istilah-istilah tersebut sesungguhnya telah kita kenal sejak di bangku sekolah. Walaupun demikian, hal tersebut seringkali membuat bingung. Karena itu, dengan bahasan ini diharapkan kita dapat memiliki konsep yang jelas tentang ragam kalimat tersebut.


B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian kalimat?

  2. Sebutkan pola-pola yang terdapat dalam kalimat?

  3. Sebutkan bagian-bagian yang terdapat dalam kalimat?

  4. Jelaskan mengenai kalimat sederhana?

  5. Jelaskan mengenai kalimat luas?


C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan.

1. Tujuan

Adapun tujuan makalah ini adalah agar para mahasiswa diharapkan dapat:

a. Mengungkapkan pengertian kalimat.

b. Memaparkan pola-pola yang terdapat dalam kalimat.

c. Mendeskripsikan bagian-bagian yang terdapat dalam kalimat.

d. Menjelaskan kalimat sederhana.

e. Menjelaskan kalimat luas.

2. Kegunaan

Kegunaan dari makalah ini adalah untuk pengetahuan dan dapat digunakan dalamkehidupan sehari-hari.


D. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

Cover

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

  2. Rumusan Masalah

  3. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

  4. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kalimat

  2. Pola-Pola dan Bagian-Bagian Kalimat

  3. Kalimat Sederhana dan Kalimat Luas

BAB III PENUTUP

  1. Simpulan

  2. Saran

Daftar Pustaka


BAB II

PEMBAHASAN


A. Pengertian kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik-turun, keras-lembut, disela-jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir.

Dalam wujud tulisan berhuruf berlatin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Pendapat lain mengatakan,’’kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun.’’

Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tulisan harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Deretan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Kalau dilihat dari hal predikat kalimat-kalimat dalam bahasa indonesia ada dua macam, yaitu

  1. Kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja, dan

  2. Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.

Akan tetapi, dalam pemakaian sehari-hari kalimat yang berpredikat kata kerja lebih besar jumlahnya daripada kalimat yang berpredikat bukan kata kerja. Hal itu membantu kita dengan mudah untuk menentukan predikat sebuah kalimat. Oleh sebab itu,kalau ada kata kerja dalam satu untaian kalimat, kata kerja itu dicadangkan sebagai predikat dalam kalimat itu.

Contoh:

Tugas itu dikerjakan oleh para mahasiswa.

Kata kerja dalam kalimat ini dikerjakan. Kata dikerjakan adalah predikat dalam kalimat.

Setelah ditemukan predikat dalam kalimat itu, subjek ditemukan dengan cara bertanya menggunakan predikat, sebagai berikut:

A

3

pa yang dikerjakan oleh para mahasiswa?

Jawaban pertanyaan itu ialah tugas itu. Kata tugas itu merupakan subjek kalimat. Kalau tidak ada kata yang dapat dijadikan jawaban pertanyaan itu. Hal itu berarti bahwa subjek tidak ada. Dengan demikian, pernyataan dalam bentuk deretan kata-kata itu bukanlah kalimat.

Kalau dalam suatu pernyataan tidak terdapat kata kerja, kata yang dapat kita cadangkan sebagai predikat ialah kata sifat. Disamping itu, kata bilangan dan kata benda pun dapat dijadikan sebagai predikat. Predikat itu dapat pula berupa frasa depan.

Tadi sudah dikatakan bahwa mencari subjek sebuah kalimat adalah dengan cara bertanya melalui predikat dengan pertanyaan.

Siapa yang atau Apa yang + …… predikat.

Bagaimana halnya dengan objek? Unsur objek dalam kalimat hanya ditemukan dalam kalimat yang berpredikat kata kerja. Namun, tidak semua kalimat yang berpredikat kata kerja harus mempunyai objek. Objek itu hanya muncul pada kalimat yang berpredikat kata kerja transitif. Objek tidak dapat mendahului predikat karena predikat dan objek merupakan suatu kesatuan.

Jika dilihat dari segi makna kalimat objek merupakan unsur yang harus hadir setelah predikat yang berupa verbal transitif. Coba anda perhatikan pernyataan dibawah ini.

Ekspor non migas mendatangkan.

Frasa ekspor nonmigas merupakan subjek kalimat, sedangkan kata mendatangkan adalah unsur predikat yang berupa verba transitif. Kalimat ini belum memberikan informasi yang lengkap sebab belum ada kejelasan tentang mendatangkan itu. Oleh sebab itu, agar kalimat itu dapat memberikan informasi yang jelas, predikatnya harus dilengkapi seperti kalimat dibawah ini.

Ekspor nonmigas medatangkan keuntungan.

S P O

Andai kata suatu kalimat sudah mengandung kelengkapan makna dengan hanya memiliki subjek dan predikat yang berupa verba intransitif, objek tidak diperlukan lagi. Kalimat dibawah ini tidak memerlukan objek.


Penanaman modal asing berkembang.

S P

Kalimat itu sudah lengkap dan jelas. Jadi, unsur subjeknya adalah penanaman modal asing dan unsur predikatnya adalah berkembang. Kalimat itu telah memberikan informasi yang jelas. Kalimat itu tidak perlu dilengkapi lagi. Andaikata di belakang unsur berkembang ditambah dengan sebuah kata atau beberapa kata, unsur tambahan itu bukan objek, melainkan keterangan.

Misalnya:

Penanaman modal asing berkembang saat ini.

S P K


B. Pola-Pola dan Bagian-Bagian Kalimat

1. Pola Kalimat Dasar

Setelah membicarakan beberapa unsur yang membentuk sebuah kalimat yang benar, kita dapat menentukan pola kalimat dasar itu sendiri. Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

a. KB + KK : Mahasiswa berdiskusi.

b. KB + KS : Dosen itu ramah.

c. KB + KBil : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.

d. KB + (KD + KB) : Tinggalnya di Palembang.

e. KB1 + KK + KB2 : Mereka menonton film.

f. KB1 + KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan.

g. KB1 + KB2 : Rustam peneliti.

Ketujuh pola dasar kalimat ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.

Catatan

KB : Kata Benda (nomina)

KK : Kata Kerja (verba)

KS : Kata Sifat (adjektiva)

KBil : Kata Bilangan (numeralia)

KD : Kata Depan (preposisi)


2. Bagian-bagian Kalimat

Bagian-bagian kalimat adalah unsur kalimat yang menduduki salah satu fungsi dalam sebuah kalimat yang terdiri atas subyek (S), predikat (P), obyek (O) dan keterangan (K). Susunan unsur-unsur ini dalam dimensi linear disebut struktur kalimat.

Di dalam berbahasa struktur dan kaidah bahasa diantaranya struktur kalimat perlu mendapat perhatian sehingga bahasa itu baik dan benar. Oleh karena itu, struktur kalimat dalam bahasa Indonesia sangat eksplisit sehingga ada bentuk kalimat yang terdiri atas satu kata, seperti lari, ada yang terdiri atas dua kata, seperti jangan bicara, ada yang tediri atas tiga kata, yakni pergilah dari sini!, dan seterusnya.

Demikianlah kalimat itu dapat ditentukan oleh intonasi tertentu. Hal ini kalimat adalah merupakan ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh aturan dan turun naiknya suara. Sehingga terjadi pengucapan bahasa yang baik.

Melihat segi maknanya (nilai komunikatifnya) kalimat terbagi menjadi kalimat berita (kalimat deklaratif) kalimat perintah (kalimat imperatif), kalimat tanya (kalimat interogatif) dan kalimat seru (kalimat interjektif).


C. Kalimat Sederhana dan Kalimat Luas

1. Kalimat Sederhana

Kalimat sederhana merupakan kalimat yang strukturnya menjadi dasar struktur kalimat suatu bahasa . Kalimat itu ditandai oleh faktor kesesuaian bentuk makna, fungsi, kesederhanaan unsur, dan posisi atau urutan unsur. Menurut kesesuain bentuk maknanya., kalimat sederhana memiliki bentuk yang utuh atau legkap. Menurut fungsinya, kalimat sederhana adalah kalimat berita. Ditinjau dari segi kesederhanaannya, kalimat sederhana memiliki unsur-unsur minimal. Berdasarkan urutan unsur-unsurnya, posisi gatra-gatra kalimat sederhana berurutan menurut segi ketergantungan diantara sesamanya. Sifat ketergantungan ini ditentukan oleh struktur fungsionalnya: SP, SPO, SPK, SPOK.

Syarat pertama struktur kalimat sederhana adalah bentuknya yang lengkap, dengan kata lain kalimat sederhana termasuk kalimat lengkap. Kelengkapan bentuk kalimat sederhana merupakan kelengkapan minimal. Artinya, bila unsur-unsur kalimat itu ditiadakan, maka kalimat itu bukan lagi kalimat sederhana.

Contoh:

  • Dia duduk.

  • Dia berlari.

  • Dia menangis.

  • Dia membaca.

Kalimat Sederhana dibagi atas dua bagian, yaitu kalimat yang tak berklausa

dan kalimat yang berklausa satu.

Sebelum kita membahas mengenai kalimat tak berklausa dan kalimat yang berklausa satu dalam kalimat sederhana, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu klausa? Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. Pendapat lain mengatakan: “Klausa adalah suatu kontruksi yang didalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional, yang dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, objek, dan keterangan-keterangan.”

  1. Kalimat tak berklausa

Kalimat tak berklausa adalah kalimat yang tidak terdiri dari klausa.

Contoh:

  • Selamat pagi!

  • Pergi!

  1. Kalimat berklausa satu

Kalimat yang berklausa satu adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa.

Contoh:

  • Lembaga itu menerbitkan majalah sastra.

2. Kalimat Luas

Kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat luas itu bermacam-macam. Macam-macam kalimat luas terdiri atas kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara.

Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.

    1. Pola kalimat I = kata benda-kata kerja

Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.

Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”

    1. Pola kalimat II = kata benda-kata sifat

Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.

Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”

    1. Pola kalimat III = kata benda-kata benda

Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru

Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional.

    1. Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial

Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.

Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial

Suatu bentuk kalimat luas hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal

sehingga membentuk satu pola kalimat baru di samping pola yang ada.

a. Kalimat Luas Setara

Kalimat luas setara ialah struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat tunggal disebut kalimat luas setara (koordinatif). Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat dasar.

Contoh:

Saya datang, dia pergi.

Kalimat itu terdiri atas dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia pergi. Jika kalimat dasar pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri. Demikian pula sebaliknya. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Itulah sebabnya kalimat itu disebut kalimat luas setara.

Ciri-ciri kalimat luas antara lain sebagai berikut:

  1. Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya.

  2. Penggabungannya disertai perubahan intonasi.

  3. Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan.

  4. Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P

Kalimat luas setara dibentuk dari dua buah klausa atau lebih yang digabungkan menjadi sebuah kalimat, baik dengan bantuan kata penghubung ataupun tidak.

Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat setara ini adalah sama derajatnya, yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain. Klausa-klausa itu mempunyai kedudukan yang bebas, sehingga kalau yang satu ditinggalkan, maka yang lain masih tetap berdiri sebagai sebuah klausa.

Pengabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas setara ini memberikan makna yang menyatakan penggabungan :

1) Penambahan

Kalimat luas serta setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna penambahan dibentuk dari dua buah klausa atau lebih, biasanya dengan bantuan kata penghubung ”dan”.

Contoh :

  • Selat Sunda terletak antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dan Selat Bali antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali

  • Kami belajar di perpustakaan, mereka bermain di halaman, dan guru-guru mengadakan rapat di kantor.

Kalau ada unsur yang sama dari klausa-klausa yang digabungkan itu, maka unsur yang sama itu dapat disatukan, artinya unsur yang sama itu hanya ditampilkan satu kali saja. Misalnya :

  • Adik belajar bahasa Inggris, Ida bahasa Perancis, dan Siti bahasa Jerman.

Predikat belajar pada klausa kedua dan ketiga dilesapkan, yang ditampilkan hanya pada klausa pertama.

2) Pertentangan

Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pertentangan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung tetapi atau sedangkan.

Contoh:

  • Saya ingin melanjutkan belajar ke perguruan tinggi tetapi orang tua saya tidak mampu membiayainya.

  • Setahun yang lalu jalan ini bersih dan mulus tetapi sekarang kotor dan berlubang-lubang.

3) Pemilihan

Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pemilihan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung atau.

Contoh :

  • Barang-barang pesanan Tuan ini akan Tuan ambil sendiri, atau kami yang harus mengantarkannya ke alamat Tuan?

  • Kamu mau menuruti nasihatku, atau kau dengarkan saja apa kata istrimu.

4) Penegasan

Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’penegasan’ dibentuk dari dua buah klausa;biasanya dengan bantuan kata penghubung bahkan, malah, apalagi, dan lagipula.

Contoh :

  • Anak-anak itu memang nakal, apalagi kalau tidak ada ibunya.

  • Daerah ini hawanya sejuk, lagipula pemandangannya indah.

5) Pengurutan

Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’pengurutan’ atau ’pengaturan’ dibentuk dari dua buah klausa atau lebih; biasanya dengan bantuan kata penghubung lalu, kemudian, dan sebagainya.

Contoh :

  • Kami menoleh dulu ke kiri dan ke kanan, lalu segera berlari menyeberangi jalan yang ramai itu.

  • Mula-mula mereka membuka pintu itu, lalu mereka menyiapkan pondok-pondok tempat tinggal, kemudian barulah mereka menyiapkan lahan pertanian.

b. Kalimat Luas Bertingkat

Kalimat luas bertingkat ialah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu misalnya keterangan, subjek, atau objek dapat disebut sebagai kalimat luas bertingkat jika di antara kedua unsur itu digunakan konjungtor. Konjungtor inilah yang membedakan struktur kalimat luas bertingkat dari kalimat setara.

Kalimat luas bertingkat dibentuk dari dua buah klausa, yang digabungkan menjadi satu. Biasanya dengan bantuan kata penghubung sebab, kalau, meskipun, dan sebagainya.

Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat luas bertingkat ini tidak sama derajatnya. Yang satu mempunyai kedudukan lebih tinggi dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain.

Penggabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas bertingkat ini memberikan makna yang, antara lain, menyatakan :

1) Sebab

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’sebab’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung karena atau sebab.

Klausa pertama (klausa bebas) sebagai induk kalimat menyatakan sesuatu peristiwa yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya peristiwa pada klausa kedua (klausa yang tidak bebas) yang menjadi anak kalimat pada kalimat bertingkat itu.

Contoh:

  • Karena tidak pandai berenang akhirnya dia hanyut terseret air.

  • Harga jual barang-barang ini terpaksa dinaikkan sebab biaya produksi dan ongkos kerja juga baik.

Anak kalimat dan induk kalimat pada kalimat bertingkat ini dapat dipertukarkan tempatnya. Kalau anak kalimat mendahului induk kalimat maka di muka induk kalimat dapat pula ditempatkan kata penghubung maka, misalnya :

  • Karena tidak pandai berenang, maka akhirnya dia terseret arus.

2) Akibat

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’akibat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung sampai, hingga, atau sehingga.

Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya sesuatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa pada klausa kedua

Contoh :

  • Tukang copet itu dipukuli orang ramai sampai mukanya babak belur.

  • Penumpang kereta api itu penuh sesak sehingga untuk meletakkan sebelah kaki pun sukar.

Dalam kalimat luas bertingkat yang hubungannya menyatakan akibat ini, posisi anak kalimat selalu di belakang induk kalimat.

3)  Syarat

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’syarat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kalau, jika, dan asal.

Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan akan terjadinya suatu peristiwa kalau sudah terjadi peristiwa lain yang dinyatakan pada klausa kedua atau anak kalimatnya. Namun, perlu diperhatikan urutan induk kalimat dan anak kalimat dapat dipertukarkan.

Contoh :

  • Saya akan hadir kalau saya di undang.

  • Jika mereka bersalah tentu kami yang akan menindaknya.



4) Tujuan

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’tujuan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabung menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung agar, supaya, dan untuk.

Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu perbuatan yang harus dilakukan agar peristiwa yang disebutkan dalam kalimat klausa kedua atau induk kalimat dapat berlangsung. Disini pun urutan kedua klausa itu dapat dipertukarkan.

Contoh :

  • Jalan-jalan diperlebar agar lalu lintas menjadi lancar.

  • Kamu harus belajar baik-baik supaya hidupmu kelak menjadi enak.

  • Pembangunan ini harus kita teruskan untuk memberi kehidupan yang lebih baik kepada anak cucu kita nanti.

5) Waktu

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’waktu berlangsungnya sesuatu peristiwa’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung ketika, sesudah, sebelum dan sejak.

Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan waktu terjadinya peristiwa induk kalimatnya.

Urutan anak kalimat dan induk kalimat dapat dipertukarkan tempatnya.

Contoh :

  • Monumen Nasional itu dibuat ketika kamu masih kecil

  • Sesudah selesai memperbaiki saluran air ini, kita akan memperbaiki tanggul sungai itu

  • Dia sudah menyelesaikan tugasnya sebelum bel berbunyi

  • Sejak ibu meninggal kami tinggal bersama kakek di desa

6) Kesungguhan

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’kesungguhan’ dibentuk dari dua buah yang digabungkan menjadi menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung meskipun, biarpun, atau sungguhpun. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan peristiwa atau kondisi yang bertentangan untuk terjadinya peristiwa pada klausa pertama.

Urutan induk kalimat dan anak kalimatnya dapat dipertukarkan

Contoh :

  • Dia berangkat juga ke sekolah meskipun hujan turun lebat sekali

  • Walaupun tidak diizinkan ayah, dia pergi juga ke hutan itu

  • Pembangunan gedung itu belum selesai juga sungguhpun telah menelan biaya ratusan juta rupiah

7) Pembatasan

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan ’pembatasan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kecuali atau hanya. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, dan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan pembatasan terhadap peristiwa pada anak kalimat.



Contoh :

  • Semua soal itu dapat saya kerjakan dengan baik kecuali nomor 17 tidak sempat saya selesaikan

  • Semua orang sudah hadir hanya Siti dan Adi belum nampak batang hidungnya.

Di sini lazim juga kata penghubung kecuali dan hanya diikuti pula dengan kata penghubung kalau. Misalnya :

  • Saya tentu akan datang memenuhi undanganmu kecuali kalau ada halangan yang tidak bisa dihindarkan

8) Perbandingan

Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-kluasanya menyatakan ’perbandingan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung seperti dan bagai.

Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, sedangkan kluasa kedua sebagai anak kalimat menyatakan perbuatan lain yang serupa dengan perbuatan pada induk kalimat.

Contoh:

  • Dengan cepat disambarnya tas nenek tua itu bagai elang menyambar anak ayam.

  • Dia terkejut bukan main seperti mendengar bunyi guruh di siang bolong.

  • Direguknya air di gelas itu dengan sekali reguk sebagai orang belum minum tiga hari.

Bedasarkan uraian di atas bahwa kalimat luas setara dan kalimat luas bertingkat memiliki perbedaan. Ada tiga pedoman untuk membedakan kalimat luas setara dan kalimat luas bertingkat, yaitu

a) Letak kata penghubung

Pada kalimat luas setara kata penghubung selalu ada di antara klausa yang dihubungkan, sedanagkan pada kalimat luas bertingkat (kecuali dalam beberapa hal) posisinya dapat di antara kedua klausa yang dihubungkan, dapat pula pada awal kalimat.

Contoh :

  • Sidin pergi ke Jakarta tetapi adiknya tinggal di rumah. (setara)

  • Ia pergi ketika kita mengunginya. (bertingkat)

  • Ketika kita mengunjunginya, ia pergi. (bertingkat)

b) Macam kata penghubung

Kata penghubung yang digunakan di dalam kalimat luas setara jumlahnya tidak banyak, antara lain dan, bahkan, lalu, atau, tetapi, hanya, jadi.

Kata penghubung yang digunakan dalam kalimat luas bertingkat antara lain ketika, sebelum, sesudah, sehingga.

c) Lagu/intonasi

Pada kalimat luas setara lagu kalimat mempunyai dua puncak, jadi terbagi menjadi dua makrosegmen, sedangkan pada kalimat luas bertingkat intonasinya hanya mempunyai satu puncak. Dengan demikian lagu pada kalimat luas bertingkat sama seperti lagu pada kalimat tunggal.

Contoh :

  • Uangnya banyak tetapi hidupnya tidak tenteram.

  • Meskipun uangnya banyak, hidupnya tidak tenteram.



BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh.

Bagian-bagian kalimat adalah unsur kalimat yang menduduki salah satu fungsi dalam sebuah kalimat yang terdiri atas subyek (S), predikat (P), obyek (O) dan keterangan (K).

Kalimat sederhana merupakan kalimat yang strukturnya menjadi dasar struktur kalimat suatu bahasa . Kalimat itu ditandai oleh faktor kesesuaian bentuk makna, fungsi, kesederhanaan unsur, dan posisi atau urutan unsur. Menurut kesesuain bentuk maknanya., kalimat sederhana memiliki bentuk yang utuh atau legkap. Menurut fungsinya, kalimat sederhana adalah kalimat berita. Ditinjau dari segi kesederhanaannya, kalimat sederhana memiliki unsur-unsur minimal. Berdasarkan urutan unsur-unsurnya, posisi gatra-gatra kalimat sederhana berurutan menurut segi ketergantungan diantara sesamanya. Sifat ketergantungan ini ditentukan oleh struktur fungsionalnya: SP, SPO, SPK, SPOK.

Kalimat luas adalah kalimat yang merupakan bentuk perluasan dari kalimat sederhana. Perluasan ini ada yang mencapai batas struktur kalimat tunggal, dan ada pula yang mencapai batas struktur kalimat majemuk. Pengertian istilah kalimat tunggal lebih luas daripada istilah kalimat sederhana. Kedua-duanya merupakan satuan sintaktik yang hanya terdiri atas sebuah satuan gatra. Karena itu, pengertian kalimat sederhana dipertentangkan dengan pengertian kalimat luas, sedangkan pengertian kalimat tunggal dipertentangkan dengan kalimat majemuk.



B. Saran

Bagi mahasiswa STAI Sukabumi, diharapkan agar mampu menyusun dan menggunakan kalimat sesuai dengan kaidah penggunaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan diharapkan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


DAFTAR PUSTAKA


Supriyadi, 1995. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim 5 PB UIN SGD BANDUNG, 2006. Kaidah dan Pelatihan Bahasa Indonesia.

Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.

Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, Anton M. Moeliono,

1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

www.google.com